“Latah” Tren Live Stories pada Media Sosial

5

Berawal dari kesuksesan Snapchat yang fitur utamanya adalah menghadirkan fitur live stories yang dapat membagikan foto dan video rekaman pengguna kepada user lain dalam waktu 24 jam, kini apikasi media sosial lain pun mengikuti. Hal yang membuat Snapchat laris diunduh dari berbagai toko aplikasi OS Android dan iOS adalah berbagai filter yang unik dan terkesan imut, efek animasi pada rekaman video, hingga fitur membagi-bagikannya epada seluruh pengguna yang sudah terjalin pertemanan dalam aplikasi. Kini, aplikasi besutan Evan Spiegel itu banyak ditiru oleh aplikasi media sosial lain.

Instagram

Instagram adalah aplikasi media sosial pertama yang berusaha meniru Snapchat dan terbilang cukup sukses. Mengapa? Karena melihat rata-rata pemakaian Snapchat yang menurun, tergantikan oleh pemakain fitur Instagram Stories ala Instagram yang sangat “ramai” (data dari Kompas: masing-masing unggahan Stories di Snapchat dilaporkan mengalami penurunan jumlah view antara 15 - 4%. Namun reaksi umum publik terhadap kehadiran fitur baru ini bukan hanya antusias menggunakannya, tetapi juga sedikit “mencibir” karena Instagram dianggap menjiplak karya Snapchat.

Kelebihan dari fitur Instagram Stories ini adalah lebih hemat RAM daripada Snapchat. Penilaian ini saya rasakan dengan penggunaan pribadi, bagaimana kehalusan navigasi dan kecepatan membuka feeds pada Instagram Stories dibandingkan Snapchat. Dan Dalam tab “Explore” pun juga terpampang feeds dari beberapa pengguna yang direkomendasikan, atau feeds yang populer banyak dilihat oleh pengguna. Sebagai tambahan, Instagram juga sudah mengahdirkan fitur live streaming mengikuti langkah Facebook dengan Facebook Live-nya, Twitter lewat Periscope, Bigo Live, dan YouTube Streaming.

tampilan menu Instagram Stories dari daftar kontak pada menu Home

tampilan feeds Instagram Stories pada menu Explore.

Whatsapp

Cukup lama setelah Instagram sukses menggeser dominasi Snapchat dalam persaingan fitur Live Stories, Whatsapp yang merupakan aplikasi pengiriman pesan instan pun ikut meniru. Update telah dirilis tanggal 23 Februari silam, fitur Status ini memiliki durasi maksimal video 45 detik, lebih lama 35 detik dibandingkandengan Snapchat. Sekilas tidak ada yang spesial dengan fitur “Status” yang disematkan Whatsapp ini, tetapi menurut saya priadi terasa lebih ringan penggunaannya dan kecepatan membuka feeds lebih cepat lagi dibandingkan Storygram ala Instagram.

Perlu diketahui bahwa Whatsapp merupakan aplikasi Chating yang sangat banyak digunakan dan paling populer dicari melalui Google oleh pengguna Indonesia (data dari National Geographic). Namun menurut saya, karena pada dasarnya Whatsapp adalah aplikasi pengiriman pesan instan dan bukan media sosial, menyebabkan fitur “status” ini tidak terlalu banyak digunakan.

Path

Tidak mau ketinggalan, Path sebagai salah satu media sosial terlaris digunakan oleh publik saat ini juga ikut mengikuti tren live stories. Baru saja pada tanggal 22 Maret 2017 update tersebut dirilis untuk pengguna OS Andorid dan iOS. Menjadi tidak begitu spesial karena durasi video yang sama dengan Snapchat hanya sebatas 10 detik.

1 hal yang sangat menarik adalah adanya filter musik yang melatari unggahan video kita. Hal lain yang membedakan cover story ala Path dengan fitur live stories aplikasi media sosial lainnya adalah UI (User Interface)-nya yang unik dan (menurut opini pribadi) terasa lebih “segar”. Namun sampai saat ini saya belum merasakan keramaian pengguna Path mencoba fitur “cover story” ala Path tersebut.

tab bulat berwarna ungu untuk masuk ke dalam fitur Cover story.

tampilan Cover story yang segar ala Path namun pengguna yang masih sedikit.

Hal yang saya bingungkan dan mungkin akan terjadi di kemudian hari adalah, perpecahan fokus sosial media. Maksud saya adalah publik tidak akan terfokus pada 1 aplikasi media sosial dalam menggunakan fitur live stories, tetapi akan terbagi antara Instagram Story ala Instagram dengan Coverstory ala Path, yang akan membuat kita sebagai pengguna akan repot membuka-tutup aplikasi. Alangkah praktisnya apabila kita yang sedang ingin “iseng” membuka feeds dari live story hanya tinggal membuka 1 aplikasi saja. Dan mengapa saya tidak mengkhawatirkan Whatsapp? Karena seperti yang sudah saya bilang di atas, menurut pengamatan saya fitur “Status”-nya tidak terlalu banyak digunakan pengguna.

Demikian opini dan analisa saya terhadap latah tren media sosial ini, bagi kawan-kawan Gadget Squad yang punya opini lain silahkan masukkan dalam kolom komentar. Terima kasih 🙂

5 COMMENTS