Friday, 2 October 2026
Home » Bukan Lagi AI, Donal Trump Resmi Pakai Istilah Super Intelligence
News

Bukan Lagi AI, Donal Trump Resmi Pakai Istilah Super Intelligence

Presiden Donald Trump baru saja secara resmi menandatangani perintah eksekutif yang mewajibkan seluruh lembaga federal AS menghapus istilah Artificial Intelligence (AI) dan menggantinya dengan Super Intelligence (SI).

Langkah ini bukan sekadar urusan tata bahasa birokrasi. Bagi Trump, kata artificial atau buatan memuat narasi yang salah, seolah teknologi ini hanya tiruan semu yang patut dicurigai. Ini bukan sekadar buatan. Ini adalah era baru, sesuatu yang jauh lebih besar dari internet, tegasnya dalam sebuah acara di Gedung Putih bersama para elite Lembah Silikon.

Perubahan akronim dari AI ke SI menghadirkan panggung unik bagi industri teknologi. Di satu meja, petinggi raksasa teknologi seperti Sundar Pichai (Google), Mark Zuckerberg (Meta), Jensen Huang (Nvidia), hingga Elon Musk (xAI) menandatangani kesepakatan sukarela terkait kerangka keselamatan Super Intelligence.

Namun, di luar koridor pemerintahan, komunitas peneliti menggelengkan kepala. Secara akademis, superintelligence (ASI) merujuk pada entitas hipotesis yang melampaui seluruh kapasitas kognitif manusia di segala bidang. Melabeli model bahasa atau generator gambar hari ini sebagai SI dianggap sebagai lompatan pemasaran yang terlalu jauh.

“Menolak regulasi ketat sambil mengganti namanya menjadi Super Intelligence adalah strategi politik yang cerdik,” tulis analisis media teknologi Tom’s Hardware. Dengan menyematkan narasi ‘keunggulan absolut’, Gedung Putih secara tersirat menggeser fokus dari kekhawatiran ancaman AI menjadi perlombaan dominasi nasional, khususnya melawan Tiongkok.

Nantinya, korespondensi resmi, situs web pemerintah, hingga rancangan undang-undang mendatang di AS wajib mengadopsi istilah SI. Istilah AI resmi dipensiunkan dari dokumen negara.

Langkah Washington ini menegaskan satu hal, persaingan teknologi masa depan tidak hanya dimenangkan lewat jutaan GPU dan algoritma, tetapi juga lewat kendali atas narasi. Apakah publik global dan komunitas ilmiah dunia akan ikut latah menyebutnya SI, atau tetap setia pada AI, kini menjadi babak baru persaingan budaya teknologi global.