GadgetSquad.id – Di era digital yang semakin terkoneksi, ancaman siber tidak lagi hanya mengincar perusahaan besar atau lembaga pemerintahan. Jurnalis pun kini menjadi salah satu target utama pelaku kejahatan siber karena memiliki akses terhadap informasi sensitif, narasumber penting, dan jaringan yang luas. Nilai informasi yang mereka pegang membuat profesi ini semakin menarik bagi para hacker maupun threat actor.
Menurut Group Head of Communications ITSEC Asia, Steve Saerang, jurnalis memiliki posisi yang sangat strategis dalam ekosistem informasi. Mereka bukan sekadar menyampaikan berita kepada publik, tetapi juga menjadi pihak pertama yang sering kali mengakses informasi penting sebelum dipublikasikan.
“Nilai informasi yang mereka miliki bahkan bisa lebih berharga dibandingkan upaya meretas sistem perusahaan. Inilah yang membuat jurnalis menjadi target potensial bagi hacker atau threat actor,” ujar Steve dalam wawancara khusus bersama Forwat beberapa waktu lalu.
Jurnalis Menjadi Target karena Akses Informasi
Steve menjelaskan bahwa dalam banyak kasus, jurnalis menjadi pintu masuk menuju informasi yang belum tersedia di ruang publik. Kondisi tersebut menjadikan mereka sasaran strategis bagi pihak-pihak yang ingin memperoleh data secara ilegal.
Tak hanya itu, jaringan relasi yang luas juga meningkatkan nilai seorang jurnalis di mata pelaku kejahatan siber. Melalui satu akun atau satu perangkat yang berhasil diretas, pelaku berpotensi memperoleh akses ke berbagai kontak, dokumen, hingga komunikasi yang bersifat rahasia.
Menurutnya, threat actor tidak memandang profesi, tingkat senioritas, maupun lokasi geografis. Yang mereka cari hanyalah target dengan tingkat keamanan paling lemah.
“Karena itu, meskipun perusahaan media telah memiliki sistem keamanan berlapis seperti firewall dan proteksi jaringan, celah terbesar justru sering berasal dari perangkat pribadi jurnalis. Ketika perangkat tersebut tidak terlindungi dengan baik, seluruh ekosistem perusahaan juga bisa ikut terdampak,” jelasnya.
Titik Lemah Ada pada Pengguna
Seiring berkembangnya sistem keamanan perusahaan, fokus serangan kini bergeser dari infrastruktur menuju individu. Steve menilai masih banyak jurnalis yang belum menerapkan praktik keamanan digital secara optimal dalam aktivitas sehari-hari.
Beberapa kebiasaan yang masih sering ditemukan antara lain menggunakan Wi-Fi publik tanpa perlindungan tambahan, memakai kata sandi yang lemah atau sama untuk banyak akun, hingga tidak mengaktifkan multi-factor authentication (MFA). Padahal, langkah-langkah sederhana tersebut dapat menjadi lapisan pertahanan pertama untuk melindungi akun dan data penting.
Selain itu, Steve juga mengingatkan pentingnya memisahkan perangkat maupun data pribadi dengan pekerjaan. Mengakses dokumen kantor melalui perangkat pribadi, atau sebaliknya, dapat meningkatkan risiko kebocoran data apabila salah satu perangkat mengalami kompromi.
“Idealnya, perangkat kerja hanya digunakan untuk aktivitas profesional dengan sistem keamanan yang telah terverifikasi,” katanya.
Waspadai Kebiasaan Oversharing di Media Sosial
Di tengah tren personal branding, banyak jurnalis aktif membagikan aktivitas sehari-hari melalui media sosial. Konten seperti one day in my life atau get ready with me memang mampu menarik perhatian audiens, tetapi tanpa disadari juga dapat membocorkan informasi yang sensitif.
Steve mencontohkan, tampilan depan rumah, lokasi tempat tinggal, nomor kendaraan, hingga lingkungan sekitar yang muncul dalam unggahan dapat dimanfaatkan oleh pihak yang memiliki niat jahat.
Baca juga : ITSEC Asia Perkuat Ekosistem Siber dan AI Indonesia melalui Pengembangan Talenta
“Begitu informasi tersebut tersebar di internet, akan sangat sulit untuk menghapusnya sepenuhnya. Karena itu, setiap orang perlu lebih bijak dalam menentukan informasi apa saja yang layak dipublikasikan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa membangun citra diri di media sosial tetap bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan privasi maupun keamanan. Kesadaran untuk membatasi informasi pribadi merupakan bagian penting dari penerapan cyber hygiene.
Ancaman AI Membuat Serangan Semakin Canggih
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) turut mengubah lanskap ancaman siber. Teknologi ini memungkinkan pelaku melakukan serangan yang lebih cepat, lebih masif, dan semakin sulit dideteksi dibandingkan sebelumnya.
Karena itu, penerapan cyber hygiene kini menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar pilihan. Kebiasaan seperti rutin mengganti kata sandi, mengaktifkan autentikasi berlapis, memperbarui sistem operasi dan aplikasi, serta lebih waspada terhadap tautan atau dokumen mencurigakan menjadi langkah dasar yang wajib dilakukan setiap pengguna.
ITSEC Asia juga menilai edukasi keamanan siber bagi jurnalis perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dengan pemahaman yang baik, jurnalis tidak hanya mampu melindungi diri sendiri dan data perusahaan, tetapi juga dapat berperan dalam meningkatkan literasi keamanan digital di tengah masyarakat.
“Pada akhirnya, keamanan siber adalah tanggung jawab bersama yang dimulai dari setiap individu. Jurnalis sebagai garda depan informasi memiliki peran penting, bukan hanya dalam menyampaikan berita, tetapi juga menjaga integritas dan keamanan data di era digital yang penuh tantangan,” tutup Steve.








