oplus_6291456

GadgetSquad.ID – Aura positif sepertinya sedang menyelimuti bisnis Indosat Ooredoo Hutchison. Hal ini bisa dilihat dari laporan pertumbuhan bisnis Indosat, hingga semester 2026.

Yup berdasarkan laporan yang didapat,
Indosat Ooredoo Hutchison mencatat pertumbuhan bisnis dua digit pada semester 2026.

Secara detail, sepanjang Januari-Juni 2026, operator seluler ini membukukan pendapatan Rp 30,7 triliun atau tumbuh 13,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

EBITDA juga meningkat lebih tinggi, yakni 14% menjadi Rp14,6 triliun dengan margin mencapai 47,6%. Sementara itu, laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk melonjak 49,2% secara tahunan menjadi Rp3,2 triliun.

Vikram Sinha, President Director and Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, mengatakan pencapaian tersebut memperkuat keyakinan perusahaan bahwa strategi transformasi berbasis AI berjalan sesuai rencana.

“AI North Star kami mendorong pertumbuhan nilai jangka panjang dengan mentransformasi Indosat dari penyedia konektivitas menjadi perusahaan teknologi berbasis AI.”

“Pertumbuhan double digit yang kami capai menjadi bukti kuat bahwa strategi kami berjalan baik sekaligus mencerminkan momentum positif dari perjalanan transformasi kami,” kata Vikram.

Soal pengembangan bisnis, Vikram menuturkan, Indosat fokus penguatan kapabilitas AI yang dapat jadi mesin pertumbuhan baru, sekaligus mendukung pengembangan ekosistem AI nasional.

Salah satu pilar utama strategi itu adalah pengembangan AI Cloud. Bisnis ini moncer dengan mencatat pendapatan USD 33 juta hanya dalam 6 bulan pertama 2026.

Angkat tersebut sudah melampaui total pendapatan sepanjang 2025 yang hanya mencapai USD 28 juta.

Kinerja itu menunjukkan meningkatnya kebutuhan industri terhadap infrastruktur AI lokal (sovereign AI infrastructure), yang kini diposisikan sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan.

Selain itu, untuk memperkuat pendanaan ekspansi, Indosat juga menyelesaikan pembentukan PT Infra Fiber Teknologi (IFT) bersama Arsari Group.

Melalui pengalihan pengelolaan lebih dari 86.000 kilometer jaringan serat optik nasional, perusahaan memperoleh sekitar Rp11,7 triliun sekaligus mulai menerapkan model bisnis asset-light.