Friday, 30 October 2026
Home » Samsung Solve for Tomorrow 2026: AeroSpora dan NovaSight Buktikan AI Bisa Menjawab Masalah Nyata
News

Samsung Solve for Tomorrow 2026: AeroSpora dan NovaSight Buktikan AI Bisa Menjawab Masalah Nyata

Polusi udara dan keterbatasan akses pendidikan masih menjadi persoalan yang membutuhkan solusi nyata. Dua tim muda Indonesia mencoba menjawab tantangan tersebut melalui teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam kompetisi Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026. Samsung Electronics Indonesia mengumumkan pemenang kompetisi tersebut di Jakarta.

Tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta keluar sebagai juara pertama kategori SMA/SMK/MA lewat AeroSpora. Sementara itu, kategori perguruan tinggi dimenangkan tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia melalui aplikasi pembelajaran NovaSight. Sementara, AeroSpora menawarkan pendekatan berbeda untuk menghadapi polusi udara di perkotaan. Tim ini merancang dinding lumut pintar yang memanfaatkan kemampuan alami lumut dalam menyaring udara, kemudian menggabungkannya dengan sensor Internet of Things (IoT) dan AI untuk menjaga kondisi tanaman tetap optimal.

Perangkat berukuran 120 x 50 cm tersebut memantau suhu, kelembapan, serta konsentrasi partikel PM2.5 secara langsung. Model TinyML yang berjalan pada mikrokontroler ESP32-S3 memperkirakan risiko kekeringan, sebelum sistem pengabutan otomatis bekerja menjaga kelembaban lumut. Menariknya, AeroSpora juga menggunakan air kondensasi pendingin ruangan sebagai sumber air.

Seluruh data dapat dipantau melalui V.E.R.A (Visual Environment Real-time Analytics), yang memanfaatkan tablet bekas sebagai stasiun pemantau. Dengan konsumsi daya 15 hingga 25 watt, perangkat ini dirancang untuk menjangkau ruangan seluas 50 hingga 80 meter persegi. Di sisi pendidikan, NovaSight menyasar hambatan yang kerap dihadapi siswa tunanetra ketika mempelajari matematika. Grafik, diagram, hingga proses pengerjaan soal tidak selalu mudah diakses melalui metode pembelajaran konvensional.

Menariknya, aplikasi ini menghadirkan lima fitur, mulai dari mengubah modul menjadi narasi yang kompatibel dengan pembaca layar, membantu pencatatan jawaban, menjawab pertanyaan berbasis materi, menyusun kuis, hingga menganalisis kesalahan pengerjaan. Dalam uji coba, siswa tunanetra mampu menjawab empat dari lima soal secara mandiri dalam 15 menit tanpa pendampingan guru.

Menurut Anggi Paramita, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, kompetisi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi generasi muda untuk menciptakan dampak positif melalui STEM dan AI.

SFT 2026 menerima lebih dari 4.000 pendaftar. Peserta terpilih mengikuti lokakarya Design Thinking, pelatihan AI, serta pendampingan mentor. Program ini menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu harus dimulai dari laboratorium besar, tetapi bisa berangkat dari persoalan sehari-hari yang membutuhkan perhatian.