Di tengah badai inflasi dan lonjakan biaya rantai pasok komponen teknologi, para gamer mulai khawatir jika konsol masa depan ini akan dibanderol dengan harga yang tidak masuk akal saat diluncurkan nanti. Kekhawatiran tersebut membayangi perbincangan hangat seputar PlayStation 6 (PS6), konsol generasi terbaru dari Sony yang kini tengah menjadi pusat spekulasi.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan analisis internal terhadap Bill of Materials (BOM) atau total modal biaya mentah komponen untuk proyek PS6 berkode “Orion”, ongkos produksi dasar konsol ini diprediksi menyentuh angka 743 hingga 960 dolar AS. Lonjakan tajam ini dipicu oleh mahalnya harga memori RAM GDDR7 yang sedang langka serta mahalnya fabrikasi cip arsitektur Zen 6 dari TSMC. Jika ditambah biaya distribusi dan margin retail, harga jual teoritisnya bisa dengan mudah menembus angka 1.000 dolar AS atau sekitar Rp15,7 jutaan.

Namun, secercah harapan datang dari analis teknologi sekaligus insinyur akun manajemen ternama, Tom, melalui kanal YouTube pribadinya, Moore’s Law is Dead. Lewat cuitan dan analisis terbarunya, ia menegaskan bahwa kepanikan publik mengenai “konsol Rp15 juta” adalah hal yang berlebihan.

Menurutnya, Sony sangat memprioritaskan keterjangkauan harga agar tidak kehilangan basis pemain massal. Moore’s Law is Dead memprediksi Sony akan menerapkan strategi klasik loss-leader, di mana mereka rela menjual perangkat keras dengan margin keuntungan tipis atau bahkan rugi demi mengejar keuntungan dari ekosistem digital, layanan langganan, dan penjualan game.

Ia memproyeksikan harga retail PS6 versi utama akan ditekan di kisaran 600 hingga 800 dolar AS (sekitar Rp9,4 juta hingga Rp12,5 juta). Harga ini dinilai sebagai batas psikologis maksimal bagi konsumen. Ancaman harga meroket menjadi 949 dolar AS hanya akan terjadi jika kebijakan tarif impor perdagangan global memburuk pada tahun 2027 atau 2028 nanti. Bagi para gamer, rekomendasi terbaik saat ini adalah mulai menabung sejak dini sembari menanti pengumuman resmi dari Sony.