Tuesday, 13 October 2026
Home » Harga DDR5 Makin Tak Terjangkau, Intel dan AMD Kembalikan Dukungan DDR4
News

Harga DDR5 Makin Tak Terjangkau, Intel dan AMD Kembalikan Dukungan DDR4

Bagi para perakit PC dan pencari performa bernilai tinggi, menatap label harga komponen saat ini bisa membuat mengelus dada. Lonjakan harga semikonduktor yang makin ugal-ugalan menekan kantong konsumen hingga ke titik krusial. Merespons krisis harga ini, Intel dan AMD terpaksa melonggarkan ambisi teknologinya dan memberi napas kedua bagi modul RAM DDR4 sebuah keputusan kompromi di tengah mahalnya ongkos merakit PC era sekarang. 

Keputusan ini bukan sekadar nostalgia teknologi. Lonjakan harga DDR5 membuat banyak pengguna menunda rencana upgrade PC karena biaya memori kini terasa terlalu berat. Sebagai gambaran, kit Corsair Vengeance 32GB DDR5 dijual sekitar 620 dolar AS (setara Rp10,3 juta) sementara kit DDR4 berkapasitas setara dibanderol sekitar 260 dolar AS (sekitar Rp4,3 juta).

Lonjakan harga tidak hanya menimpa DDR5. Lembaga riset TrendForce mencatat harga kontrak chip DRAM DDR4 8GB mencapai 25 dollar AS atau (sekitar Rp 415 ribu) pada Agustus, sekitar 8,6 kali lipat dibanding Juni 2016. Permintaan dari pusat data dan ekosistem AI diyakini menjadi salah satu pemicu utama, karena memaksa kapasitas produksi memori bergeser ke segmen yang lebih menguntungkan.

Kemudian dari sisi Intel, Gigabyte mengonfirmasi lini motherboard B760 dan H610 termasuk varian DDR4 akan mendukung prosesor LGA 1700 baru yang diperkirakan hadir pada awal 2027. Artinya, pengguna yang masih menyimpan motherboard dan RAM DDR4 dapat melakukan peningkatan prosesor tanpa harus mengganti seluruh fondasi sistem.

AMD mengambil jalur serupa. Perusahaan tersebut kembali memasarkan Ryzen 7 5800X3D 10th Anniversary Edition di platform AM4 yang memang mendukung DDR4, disertai peluncuran lini motherboard AM4 baru oleh Gigabyte. AMD bahkan menyebut chip ini bukan produk edisi terbatas dan akan tetap dijual selama masuk akal secara bisnis.

Bagi pembeli rakitan PC menengah ke bawah, kembalinya DDR4 memberi ruang bernapas. Anggaran yang semula habis untuk memori kini bisa dialihkan ke GPU, penyimpanan, atau pendingin yang lebih baik. Namun, langkah ini juga menandakan krisis pasokan memori belum berakhir, DDR4 sendiri dilaporkan naik lebih dari 50 persen selama kuartal ketiga 2026.

Kembalinya DDR4 bukan tanda kemunduran teknologi, melainkan cermin kondisi pasar yang sedang tidak sehat. Selama DDR5 masih dianggap terlalu mahal, standar lama yang nyaris pensiun ini justru menjadi penyelamat bagi banyak pengguna PC.