Setelah Honor dilepas pada tahun 2020 lalu, Huawei tampaknya tidak ingin lagi kehilangan ruang di segmen smartphone yang paling ramai di segmen kelas menengah. Kabar terbaru menyebut perusahaan teknologi asal Shenzhen itu sedang menyiapkan sub brand baru bernama Starlight, atau Xingmang di pasar Tiongkok. Informasi ini masih berstatus rumor, tetapi jejaknya cukup kuat untuk menarik perhatian industri.
Berdasarkan bocoran dari leaker Digital Chat Station, Starlight diproyeksikan menjual ponsel terutama melalui kanal online dengan positioning harga yang lebih terjangkau. Model bisnis ini menyerupai formula awal Honor yaitu dengan menawarkan perangkat menarik tanpa beban biaya ritel fisik yang besar.
Yang menarik, Huawei memang punya celah di lini produknya. Portofolio utama perusahaan cenderung bergerak ke segmen premium dan flagship, sementara pasar menengah yang menekankan performa serta penjualan daring justru dikuasai Redmi, iQOO, dan Realme. Starlight diyakini dirancang untuk mengisi ruang kosong tersebut.
Dari sisi perangkat keras, ponsel Starlight dikabarkan akan mengandalkan chipset Kirin seri 8, indikasi kuat bahwa produk pertamanya memang ditujukan untuk kelas menengah. Beberapa laporan bahkan menyebut kemungkinan penggunaan Kirin seri 9 pada varian tertentu, meski detailnya belum jelas.
Bocoran lain juga menyebut bahwa sejumlah model sudah memasuki tahap pengembangan. Salah satunya konon akan membawa kipas pendingin aktif, fitur yang biasanya identik dengan ponsel gaming. Jika benar, Huawei tampaknya ingin Starlight dikenal bukan sekadar murah, melainkan punya keunggulan performa yang bisa dipasarkan secara jelas.
Perangkat tersebut juga diperkirakan tetap menggunakan HarmonyOS serta teknologi pencitraan XMAGE, namun kemungkinan memangkas fitur premium seperti komunikasi satelit demi menekan harga. Rentang harga yang beredar di kalangan insider disebut sekitar 1.799 hingga 4.000 yuan, atau kira-kira setara Rp 4 hingga 9 juta. Terlepas dari hal tersebut, nama Xingmang sendiri bukan hal sepenuhnya baru. Merek brand tersebut dilaporkan telah diajukan Huawei sejak 2020 dan terdaftar pada 2023, sehingga kemungkinan ini bukan sekadar desas-desus tanpa persiapan.
Hingga saat ini, Huawei sendiri belum memberikan konfirmasi resmi. Namun, ketika isu ini ramai di Weibo, perusahaan hanya menjawab singkat, “Silakan merujuk pada informasi resmi” jawaban yang tidak menegaskan maupun membantah. Namun, mengingat posisi Huawei di pasar global masih dipengaruhi keterbatasan pasokan chip dan ekosistem layanan, peluang perangkat ini hadir di Indonesia maupun Asia Tenggara belum bisa dipastikan.





