Ekosistem premium Apple di Indonesia kini terasa semakin mahal untuk dipertahankan. Belum reda perbincangan mengenai lonjakan harga jajaran produk hardware Apple, seperti MacBook dan iPhone yang terimbas kenaikan harga global pada komponen krusial seperti RAM, kini Apple resmi menaikkan tarif layanan penyimpanan awan mereka, iCloud+. Langkah penyesuaian tarif ini mulai berlaku serentak pada 21 Juli 2026.
Tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS disinyalir menjadi motor penggerak utama di balik keputusan ini. Ketika biaya produksi hardware membengkak akibat langkanya rantai pasok memori, lini layanan digital (services) seperti iCloud+ turut disesuaikan demi menjaga margin keuntungan perusahaan di pasar internasional.
Bagi para pengguna Apple di tanah air, kabar baiknya adalah paket paling dasar berkapasitas 50 GB tidak mengalami perubahan dan tetap bertengger di harga Rp15.000 per bulan. Namun, bagi mereka yang membutuhkan kapasitas lebih besar untuk menyimpan cadangan foto, video, dan dokumen kerja, dompet harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam.
Paket 200 GB kini merangkak naik menjadi Rp59.000 dari yang semula Rp49.000 per bulan. Kenaikan yang lebih terasa muncul pada paket 2 TB, yang kini dibanderol Rp199.000 dari tarif lama Rp169.000. Sementara itu, lonjakan paling signifikan terjadi pada kategori penyimpanan monster; paket 6 TB melonjak Rp100.000 menjadi Rp599.000, dan paket tertinggi 12 TB mencatat kenaikan sebesar Rp200.000, membuat harganya kini menyentuh Rp1.199.000 setiap bulannya.
Kenaikan harga ini tentu menuntut pengguna untuk lebih bijak melakukan manajemen penyimpanan digital. Mengaktifkan fitur Family Sharing untuk membagi satu paket besar ke beberapa anggota keluarga bisa menjadi trik cerdas demi menghemat pengeluaran bulanan. Bagaimanapun juga, integrasi mendalam serta fitur privasi tambahan seperti Private Relay dan Hide My Email tetap membuat iCloud+ sulit digantikan oleh para pengguna setianya.







