GadgetSquad.id – Selama pandemi, berbagai sektor industri terus beradaptasi untuk bertahan hidup. Bahkan, tidak sedikit yang bertransformasi demi mengikuti perubahan pola hidup masyarakat termasuk industri audio visual. Hal ini juga terjadi pada pelaku industri kesehatan dan telekonsultasi yang mulai menunjukkan peningkatan penggunaan signifikan.

Dari sisi pemasok jasa, sejak awal tahun 2020, tercatat sudah ada 12 layanan kesehatan digital yang menerapkan praktik telemedicine. Survei dari Google, Temasek, dan Bain & Company bertajuk SEA e-Conomy 2020 turut membuktikan adanya kenaikan pengguna aktif aplikasi telemedicine seperti Halodoc naik lebih dari 101 persen hingga kuartal I 2020, dibandingkan periode yang sama pada tahun 2019. Hal ini diperkuat dari data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menunjukan pengguna layanan telemedicine semasa pandemi mencapai angka 300.000 user. Alhasil, dari kenaikan permintaan ini, tuntutan kualitas layanan menjadi makin mutlak. Bagi perusahaan telekonsultasi kesehatan maupun rumah sakit pada umumnya tentunya harus memiliki layanan customer service yang terus siaga melayani pasien kapanpun tanpa henti.

Perusahaan audio dan visual Jabra menyatakan, pihaknya selama ini telah banyak melayani kebutuhan perusahaan sejenis untuk perangkat audio guna mendukung tenaga call center agar mampu melayani konsumen secara optimal lewat perangkat berkualitas. Brodjo Koesworo Hadiputro, Country Manager, Enterprise, Jabra menyebut, konsumen korporat Jabra di Indonesia membutuhkan perangkat kerja yang bisa menunjang aktivitas kerja rutin, salah satunya untuk agen-agen call center. “Terutama bagi konsumen yang bergerak di penyedia layanan kesehatan dan perbankan terkemuka di Indonesia, investasi mereka pada perangkat audio yang berkualitas dan punya umur pakai panjang cukup banyak,” ujarnya.

Brodjo menyebut, bahwa klien di segmen business to business (B2B) Indonesia saat ini semakin mengutamakan perangkat yang berkualitas dan mendukung produktivitas serta layanan penjual yang dapat diandalkan. Di Indonesia sendiri, Jabra memiliki beberapa partner resmi yang berkomitmen untuk memberikan layanan purna jual yang bermutu tinggi, garansi resmi, suku cadang hingga konsultasi produk untuk klien korporat.

Ia menambahkan, di Tiongkok misalnya, produk enterprise Jabra cukup diminati oleh beberapa partner rumah sakit daerah yang memanfaatkan kamera dan speaker Jabra untuk keperluan mengajar dan kegiatan administratif rumah sakit. “Para dokter yang mengajar untuk mahasiswa kedokteran kini sudah mulai beraktifitas dengan menggunakan Jabra PanaCast dan Speak sebagai penunjang praktikum. Kami tentu sangat bangga bisa menjadi bagian dari adopsi new normal semacam ini,” kata Brodjo.

Baca Juga: Review OPPO Enco Air : TWS Mewah, Audio Mantab, Kualitas Paripurna!!

Lebih lanjut, di Indonesia sendiri terjadi kenaikan permintaan selama pandemi, khususnya untuk headset andalan call center, Biz 2400. Varian headset ini mudah terkoneksi ke banyak perangkat, nyaman digunakan dalam waktu lama, dan tentunya punya fitur peredam kebisingan. Terlebih, selama pandemi, tenaga call center para klien kami juga banyak yang harus melayani konsumen dari rumah atau remote. “Inilah yang membuat perangkat Biz 2400 jadi andalan, bahkan cukup meningkat penjualannya selama pandemi,” lanjutnya.

Menurut Brodjo, banyak pelanggan seri Biz yang berasal dari sektor usaha kesehatan dan telekonsultasi. “Salah satu fitur unggulan yang dimiliki seri Biz 2400 adalah SafeTone, dimana fitur ini dirancang untuk memastikan kesehatan indera pendengar tetap terjaga, meski memakai perangkat headset dalam waktu lama. Selain kualitas audio yang jernih, kami memang tidak pernah luput untuk memastikan aspek keamanan jangka panjang pemakai,” lanjutnya.

Baca Juga: Evolve2 30, Headset Terbaru Jabra Bersertifikasi UC

Brodjo menilai, di masa depan, para provider telekonsultasi dan telehealth mungkin sudah banyak yang menjalankan diagnosis kompleks untuk para pasien. “Sehingga, kendala seperti suara yang kurang optimal sudah harus ditangani oleh provider. Salah satu kunci utama pelayanan telehealth agar sustain ada di investasi perangkat audio. Karena, ini ada hubungannya dengan teknis kesehatan pasien yang rumit dan tidak boleh salah dengar, agar diagnosis dan penanganan yang diberikan juga tepat,” tutup Brodjo.