GadgetSquad.ID – Kecanggihan teknologi membuat ancaman siber semakin merajalela. Biasanya modus yang digunakan adalah phishing, layanan pelanggan palsu, situs dan nomor telepon palsu, hingga tautan berbahaya yang menyerupai kanal resmi.

Menurut data Tiger Research, khususnya di industri Web3 pada kuartal pertama 2026, social engineering menjadi penyebab 74,7% total kerugian akibat kejahatan siber.

Lebih lanjut berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Indonesia menghadapi sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025, meningkat 7 kali lipat dari rata-rata tahunan periode 2020-2024.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat total kerugian akibat penipuan transaksi keuangan mencapai Rp9,1 triliun sejak 2024 hingga Januari 2026.

Berbagai data di atas, menjadi gambaran nyata bagaimana semakin “ngerinya, ancaman siber di negeri ini. Pertanyaanya saat ini bagaimana respon pelaku industri, menghadapi kondisi tersebut?

Indodax menjadi salah satu pelaku industri yang sudah melakukan berbagai langkah strategis, menangkal serangan ciber yang semakin massive.

Salah satu langkah Indodax yakni, memperkuat edukasi keamanan digital melalui kampanye anti-phishing.

Kampanye tersebut mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam memverifikasi informasi sebelum mengakses layanan digital atau menghubungi layanan pelanggan.

William Sutanto, CEO Indodax, mengatakan pola kejahatan siber kini menunjukkan perubahan, jika sebelumnya pelaku berupaya membobol sistem teknologi.

“Kini mereka lebih banyak memanfaatkan kelengahan pengguna untuk memperoleh akses terhadap akun dan informasi pribadi,” tuturnya.

Lebih lanjut, William Sutanto, menginfokan, banyak korban merasa aman karena menemukan informasi tersebut melalui mesin pencari. Padahal posisi teratas di hasil pencarian tidak selalu menjamin keaslian suatu informasi.

“Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak hanya mencari, tetapi juga memverifikasi. Pastikan selalu mengakses website resmi dan menggunakan kanal komunikasi resmi yang telah disediakan,” lanjutnya.

Karena itu Indodax mengajak masyarakat menerapkan tiga kebiasaan sederhana untuk mengurangi risiko menjadi korban phishing.

Pertama, selalu memeriksa alamat domain situs yang dikunjungi dan memastikan berasal dari kanal resmi. Kedua, tidak langsung mempercayai nomor telepon atau tautan yang muncul di hasil pencarian tanpa melakukan verifikasi.

Ketiga, memanfaatkan kanal bantuan resmi yang tersedia di aplikasi maupun situs resmi ketika membutuhkan informasi terkait akun.

Nah, sebagai bagian dari upaya perlindungan konsumen, Indodax terus memperkuat layanan bantuan resmi yang tersedia 24 jam.

Bantuan tersebut bisa diakses email, Live Chat Help Center, call center di (021) 5065 8888, media sosial resmi perusahaan, atau
layanan Indodax Prioritas di (021) 5036 8888.

Langkah sederhana tersebut, menjadi semakin penting di tengah perkembangan ancaman siber yang terus berubah dan semakin kompleks.