Transformasi Digital “Kunci” Bertahan Dari Resesi Global?

GadgetSquad.ID – Gonjang ganjing resesi ekonomi diprediksi bakal terjadi tahun 2023, nampaknya membuat resah semua pelaku bisnis, termasuk di Tanah Air.

Pertanyaannya saat ini, jika benar tahun 2023 nanti terjadi perlambatan ekonomi, resesi atau apapun namanya, bagaimana cara melewati situasi tersebut? “Jurus” apa yang harus digunakan?

Dalam acara diskusi Digital Industry Forecast (DIECAST) 2023 yang digelar oleh Techbiz Indonesia, diyakini jika “transformasi digital” dapat menjadi solusi bagi dunia bisnis dalam menghadapi ancaman perlambatan ekonomi tersebut.

Handito Saroso, Country Lead ZOHO Indonesia, menyampaikan bahwa investasi di bidang teknologi sangat dibutuhkan perusahaan saat mengalami kondisi sulit, bukannya malah mengurangi penggunaan teknologi.

Karena ketika mereka menginvestasikan kepada teknologi ada banyak manfaat yang didapatkan seperti efisiensi biaya.

Lebih lanjut, Handito menuturkan, dalam menghadapi perlambatan ekonomi yang pertama harus dilakukan oleh dunia bisnis adalah mendefinisikan ulang terkait arah bisnis dan prioritas bisnis mereka.

Yang kedua, pelaku bisnis harus meningkatkan pertumbuhan implementasi teknologinya di area yang saat ini belum terdigitalisasi.

“Banyak perusahaan digital yang sedang mengkondisikan ulang bisnis mereka untuk membenahi fudamentalnya. Jadi ketika marketnya naik lagi mereka jauh lebih siap dan mereka mempunyai runway yang lebih panjang,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan, Ketua Umum Masyarakat Telematika (MASTEL), Sarwoto Atmosutarno yang menekankan bahwa transformasi digital harus dapat diakselerasi lagi pertumbuhannya, agar Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari sektor digital dapat meningkat.

Sebagai info tambahan, Ekonom INDEF, Nailul Huda menyampaikan bahwa akan ada perlambatan ekonomi yang dampaknya akan dirasakan oleh seluruh industri, termasuk industri digital tanah air.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi global tersebut disampaikan nailul membuat optimisme ekspektasi gross merchendise value (GMV) menurun di tahun 2025.

“Laporan tahun 2021 dan 2022 yang saya ambil dari data yang dikeluarkan oleh Google, Temasek dan Bain menyebutkan potensi GMV pada tahun 2025 mencapai USD146 billion. Namun, pada tahun 2022 menurun menjadi USD130 billion,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Investasi bidang digital paling tinggi berada di Singapura dan kedua adalah Indonesia. Namun, pada tahun 2022, persentase destinasi investasi ekonomi digital Indonesia mengalami penurunan.